Working Capital: Pengertian, Jenis, dan Cara Mengelolanya agar Bisnis Tetap Sehat
- Anindhita Nugraha
- 30 Nov 2025
- 4 menit membaca

Saat memulai atau menjalankan bisnis, modal kerja atau working capital adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Istilah ini mungkin terdengar teknis, tetapi sebenarnya sangat dekat dengan aktivitas harian perusahaan, mulai dari membayar gaji karyawan hingga memenuhi permintaan pelanggan. Modal kerja yang dikelola dengan baik dapat menjadi penentu apakah bisnis dapat berjalan lancar atau justru mengalami kesulitan keuangan. Artikel ini akan menjelaskan working capital secara sederhana—mulai dari definisi, konsep, tujuan, jenis, hingga cara menghitungnya—agar Anda dapat memahami pentingnya modal kerja dalam menjaga kesehatan keuangan perusahaan.
Apa Itu Working Capital?
Working capital atau modal kerja adalah selisih antara aset lancar dan kewajiban lancar perusahaan. Aset lancar biasanya berupa uang tunai, saldo bank, piutang, hingga persediaan barang yang bisa dicairkan dalam waktu kurang dari satu tahun. Sementara kewajiban lancar adalah total utang jangka pendek yang harus dibayar dalam periode yang sama.
Dengan kata lain, working capital adalah dana yang tersedia untuk menjalankan operasional bisnis sehari-hari. Jika selisih antara aset dan utang jangka pendek menunjukkan angka positif, berarti perusahaan berada dalam kondisi keuangan yang sehat. Sebaliknya, jika selisihnya negatif, hal tersebut menunjukkan bahwa perusahaan berisiko mengalami kesulitan membayar utang dan berpotensi menuju kebangkrutan.
Konsep-Konsep Working Capital
Menurut Munawir (2010), terdapat tiga konsep utama modal kerja yang perlu dipahami:
Konsep Kuantitatif
Konsep ini menekankan pada jumlah aktiva lancar yang dimiliki perusahaan. Fokusnya adalah memastikan dana cukup untuk membiayai kebutuhan operasional jangka pendek.
Konsep Kualitatif
Konsep ini melihat kualitas modal kerja, yaitu seberapa besar kelebihan aset lancar dibandingkan kewajiban lancar. Semakin besar selisihnya, semakin baik kondisi perusahaan.
Konsep Fungsional
Konsep ini menilai modal kerja dari sisi fungsi dalam menghasilkan laba. Dana yang tersedia harus mampu mendukung proses bisnis agar perusahaan bisa memperoleh keuntungan.
Tujuan Pengelolaan Working Capital
Mengelola modal kerja bukan hanya tentang memastikan perusahaan punya uang tunai, tetapi juga untuk menjaga kelancaran operasional. Beberapa tujuannya antara lain:
Menjaga likuiditas perusahaan agar mampu memenuhi kewajiban jangka pendek.
Menyediakan dana darurat untuk pembiayaan mendesak.
Menjamin ketersediaan persediaan barang untuk memenuhi permintaan pasar.
Mendukung kebijakan pemberian kredit kepada konsumen.
Mengoptimalkan penggunaan aset lancar untuk meningkatkan penjualan.
Menjaga nilai uang dengan menempatkan modal kerja ke investasi yang aman.
Jenis-Jenis Working Capital
Secara umum, working capital terbagi menjadi dua kelompok besar:
Variable Working Capital
Jenis modal kerja yang nilainya berubah-ubah sesuai kondisi perusahaan. Terdiri dari:
Seasonal Working Capital: berubah karena pengaruh musim atau periode tertentu.
Cyclical Working Capital: berubah sesuai situasi ekonomi atau siklus bisnis.
Emergency Working Capital: muncul akibat keadaan darurat yang tidak terduga.
Permanent Working Capital
Modal kerja yang selalu harus tersedia agar operasi bisnis berjalan normal. Terdiri dari:
Primary Working Capital: dana minimum yang wajib ada dalam perusahaan.
Normal Working Capital: dana yang diperlukan untuk mendukung volume produksi yang stabil.
Cara Menghitung Working Capital
Untuk menghitung modal kerja, langkah yang perlu dilakukan adalah:
Mengumpulkan data aset lancar, seperti uang tunai, saldo rekening, piutang, persediaan, dan investasi jangka pendek.
Mengumpulkan data kewajiban lancar, seperti utang usaha, gaji, pajak, dan tagihan yang harus dibayar dalam satu tahun.
Rumus yang digunakan:
Working Capital = Aset Lancar – Kewajiban Lancar
Contoh:
PT Minyak Bumi memiliki aset lancar sebesar Rp500.000.000 dan kewajiban lancar Rp50.000.000.
Maka:
Working Capital = 500 juta – 50 juta = 450 juta
Nilai ini menunjukkan kondisi keuangan yang sehat karena perusahaan mampu melunasi kewajibannya tanpa hambatan.
Untuk penilaian tambahan, digunakan rasio keuangan seperti current ratio, quick ratio, receivable turnover, dan inventory turnover.
Berapa Jumlah Working Capital yang Ideal?
Semakin besar working capital, umumnya semakin baik. Namun, modal kerja yang terlalu tinggi juga dapat menimbulkan masalah—misalnya jika aset perusahaan terlalu banyak berbentuk persediaan yang belum terjual, atau piutang yang pencairannya lambat. Oleh karena itu, keseimbangan antara likuiditas dan efektivitas penggunaan aset sangat penting.
Komponen dalam Net Working Capital
Aset Lancar
Meliputi uang tunai, saldo bank, piutang, persediaan, hingga investasi jangka pendek.
Kewajiban Lancar
Termasuk utang usaha, utang gaji, pajak, biaya asuransi, dan pembayaran di muka dari pelanggan.
Net Working Capital dihitung dari selisih keduanya untuk melihat likuiditas dan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek.
Faktor yang Mempengaruhi Working Capital
Beberapa hal yang dapat memengaruhi naik turunnya modal kerja adalah:
Perputaran persediaan: semakin cepat terjual, semakin efisien penggunaan modal kerja.
Pendapatan perusahaan: pendapatan yang meningkat akan memperbesar aset lancar.
Penjualan saham: menambah modal dan memperkuat posisi keuangan.
Penjualan aset tetap: dapat menjadi sumber dana untuk modal kerja tambahan.
Pentingnya Net Working Capital
Net working capital membantu menentukan apakah perusahaan mampu membayar utang jangka pendek. Jika nilainya positif, perusahaan dinilai likuid dan sehat. Namun jika negatif, hal ini menjadi sinyal bahwa perusahaan perlu berhati-hati dan segera memperbaiki struktur keuangannya.
Analisis dan Penilaian Net Working Capital
Modal kerja yang positif menunjukkan perusahaan dapat mengandalkan asetnya untuk membiayai kewajiban tanpa harus mencari pinjaman tambahan. Namun, angka negatif tidak selalu berarti kebangkrutan—kadang hanya menggambarkan perputaran kas yang lambat atau ketergantungan pada kredit jangka pendek.
Tetap diperlukan analisis lanjutan untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat mengenai kondisi keuangan perusahaan.
Working capital adalah salah satu indikator terpenting dalam menilai kesehatan keuangan sebuah perusahaan. Dengan memahami definisi, jenis, cara menghitung, serta faktor-faktor yang memengaruhinya, Anda dapat memastikan bahwa bisnis memiliki kemampuan finansial untuk bertahan dan berkembang. Pengelolaan modal kerja yang baik membuat perusahaan mampu memenuhi kewajiban, menjalankan operasional secara efisien, dan menghindari risiko keuangan yang tidak diinginkan.


Komentar