top of page

Akuntansi Keperilakuan: Mengapa Sistem Canggih Bisa Gagal Tanpa Memahami Manusia

Di era digital, banyak perusahaan berlomba-lomba menggunakan sistem akuntansi modern seperti ERP atau software berbasis cloud. Harapannya jelas: pekerjaan lebih cepat, data lebih akurat, dan keputusan bisnis jadi lebih tepat.


Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Ada perusahaan yang justru mengalami penurunan produktivitas setelah menggunakan sistem canggih. Kenapa bisa begitu?


Jawabannya sering kali bukan pada teknologinya, melainkan pada manusia yang menggunakannya. Di sinilah konsep akuntansi keperilakuanĀ menjadi penting. Artikel ini akan membahas secara sederhana apa itu akuntansi keperilakuan, ruang lingkupnya, hingga bagaimana penerapannya dalam bisnis.


Ketika Sistem Bagus Tidak Cukup: Studi Kasus

Bayangkan sebuah perusahaan manufaktur bernama PT Surya Logam yang baru saja mengimplementasikan sistem ERP terbaru. Sistem ini dirancang untuk mempercepat pelaporan keuangan dan meningkatkan akurasi data.


Namun setelah 6 bulan, hasilnya justru mengecewakan. Tim keuangan merasa terbebani, target anggaran dianggap terlalu tinggi, bahkan beberapa staf mulai ā€œmenyesuaikanā€ angka pengeluaran agar terlihat sesuai target.


Setelah dianalisis lebih dalam, masalahnya bukan pada sistem ERP tersebut. Justru yang terlewat adalah kesiapan dan perilaku manusia yang menggunakan sistem tersebut.


Kasus seperti ini cukup umum. Banyak penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan sistem akuntansi tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada bagaimana manusia meresponsnya.


Apa Itu Akuntansi Keperilakuan?

Akuntansi keperilakuan adalah cabang ilmu akuntansi yang mempelajari hubungan antara perilaku manusia dengan sistem akuntansi, serta dampaknya terhadap pengambilan keputusan bisnis.


Artinya, angka dalam laporan keuangan bukan sekadar hasil perhitungan. Di baliknya ada keputusan, tekanan, motivasi, dan kepentingan dari orang-orang di dalam organisasi.


Bidang ini menggabungkan beberapa ilmu sekaligus, seperti psikologi, sosiologi, dan ekonomi. Fokusnya adalah memahami bagaimana faktor manusia—seperti emosi, persepsi, dan tekanan kerja—mempengaruhi cara seseorang membuat keputusan keuangan.


Ruang Lingkup Akuntansi Keperilakuan

Dalam praktiknya, akuntansi keperilakuan mencakup beberapa area penting.


Pertama, bagaimana perilaku manusia memengaruhi desain sistem akuntansi. Misalnya, sistem dibuat mengikuti kebiasaan pengguna agar lebih mudah digunakan.


Kedua, bagaimana sistem akuntansi memengaruhi perilaku. Contohnya, sistem penganggaran tertentu bisa membuat karyawan lebih disiplin atau justru lebih manipulatif.


Ketiga, bagaimana individu mengambil keputusan berdasarkan informasi akuntansi. Di sini, faktor seperti bias dan persepsi sangat berperan.


Aspek Penting dalam Akuntansi Keperilakuan

Ada beberapa aspek utama yang sering dibahas dalam akuntansi keperilakuan.


Salah satunya adalah konflik antara manajemen dan pemilik perusahaan, yang dikenal sebagai agency theory. Misalnya, manajer mungkin lebih fokus mengejar bonus jangka pendek, sementara pemilik ingin pertumbuhan jangka panjang.


Kemudian ada aspek penganggaran. Dalam praktiknya, sering terjadi fenomena budgetary slack, yaitu ketika manajer sengaja menaikkan anggaran agar target lebih mudah dicapai.


Selain itu, ada juga bias dalam pengambilan keputusan. Seseorang bisa saja mengambil keputusan bukan berdasarkan data, tetapi berdasarkan intuisi atau tekanan tertentu.


Aspek lainnya adalah sistem pengendalian manajemen. Sistem yang terlalu ketat bisa membuat karyawan tertekan, sedangkan sistem yang terlalu longgar bisa menimbulkan penyalahgunaan.


Terakhir, pelaporan keuangan juga dipengaruhi perilaku. Misalnya, keputusan untuk mempercepat pengakuan pendapatan atau menunda biaya bisa dipengaruhi oleh tekanan target.


Manfaat Akuntansi Keperilakuan bagi Perusahaan

Memahami akuntansi keperilakuan memberikan banyak keuntungan bagi perusahaan.


Pertama, perusahaan bisa lebih memahami bagaimana manajemen dan karyawan bereaksi terhadap kebijakan baru. Hal ini membuat pengambilan keputusan menjadi lebih realistis.


Kedua, sistem pengendalian bisa dibuat lebih efektif. Jika disesuaikan dengan psikologi karyawan, sistem tidak akan terasa sebagai beban, melainkan sebagai alat bantu.


Ketiga, perusahaan bisa mengidentifikasi kendala dalam penggunaan informasi keuangan. Kadang laporan sudah akurat, tetapi sulit dipahami oleh tim operasional.


Keempat, efisiensi operasional bisa meningkat. Dengan memahami perilaku manusia, perusahaan dapat mengurangi kesalahan dan inefisiensi yang sering terjadi.


Contoh Masalah dalam Akuntansi Keperilakuan

Ada beberapa masalah umum yang sering muncul akibat faktor perilaku.


Salah satunya adalah manipulasi laporan keuangan. Misalnya, ketika target laba terlalu tinggi, tim keuangan mungkin menunda pencatatan biaya agar hasil terlihat lebih baik.


Contoh lain adalah konflik kepentingan. Misalnya, manajer di PT Andalas Prima lebih fokus mencapai bonus tahunan, sementara pemegang saham ingin investasi jangka panjang.


Selain itu, resistensi terhadap sistem baru juga sering terjadi. Misalnya, ketika perusahaan mengganti sistem manual dengan sistem digital, sebagian karyawan merasa tidak nyaman dan enggan beradaptasi. Dampaknya, mereka bekerja setengah hati atau bahkan mencari celah dalam sistem.


Cara Menerapkan Akuntansi Keperilakuan dalam Bisnis

Penerapan akuntansi keperilakuan bisa dilakukan dengan berbagai cara.


Salah satunya adalah penganggaran partisipatif. Misalnya, di PT Cahaya Nusantara, penyusunan anggaran tidak hanya dilakukan oleh manajemen, tetapi juga melibatkan tim operasional. Hasilnya, anggaran menjadi lebih realistis dan karyawan lebih termotivasi mencapainya.


Selain itu, evaluasi kinerja juga perlu dibuat lebih adil. Jangan hanya fokus pada angka keuangan jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan aspek lain seperti kepuasan pelanggan dan inovasi.


Perusahaan juga bisa meningkatkan transparansi dengan membagikan informasi keuangan kepada karyawan. Misalnya, PT Bumi Sejahtera rutin membagikan laporan sederhana kepada seluruh tim agar mereka memahami kondisi perusahaan.


Terakhir, penting untuk merancang sistem insentif jangka panjang. Misalnya, bonus tidak hanya berdasarkan hasil kuartal, tetapi juga berdasarkan kinerja dalam beberapa tahun.


Kesimpulan

Akuntansi keperilakuan mengajarkan bahwa sistem yang canggih tidak akan berjalan optimal tanpa memahami manusia yang menggunakannya.


Banyak masalah dalam akuntansi bukan berasal dari teknologi, tetapi dari cara manusia merespons sistem tersebut. Oleh karena itu, perusahaan perlu menggabungkan pendekatan teknis dengan pemahaman perilaku.


Dengan memahami aspek ini, perusahaan tidak hanya bisa meningkatkan efisiensi, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif. Pada akhirnya, kombinasi antara teknologi dan pemahaman manusia adalah kunci keberhasilan dalam pengelolaan keuangan modern.


Postingan Terakhir

Lihat Semua

Komentar


Infinite-ERP

Transform Your Business Processes

Kantor Pusat

KHALEEFA CAMP Batam

Ruko Bukit Sentosa Blok C No.05

Kel. Mangsang, Kec. Sungai Beduk

Kota Batam, Kepulauan Riau

Indonesia 29437

Phone: +62 821-7400-7804

Development Office

KHALEEFA CAMP Magetan

Jalan Sawah No.01 RT.09 RW.02

Desa Klagen Gambiran, Kecamatan Maospati

Kabupaten Magetan, Jawa Timur 63392
Phone: +62 821-7400-7804

Pertanyaan Umum:

sales@infinite-erp.co.id

Layanan Pelanggan:

support@infinite-erp.co.id

Quick Links

Syarat & Kondisi

Kebijakan pribadi

Ikuti kami

Daftar untuk mendapatkan berita dan update terbaru dari Infinite-ERP.

Thank You for Subscribing!

LinkedIn

Facebook

Twitter

© 2021 Infinite-ERP. Seluruh hak cipta.

bottom of page