Rekonsiliasi Bank: Cara Sederhana Memastikan Saldo Kas Perusahaan Tetap Akurat
- Anindhita Nugraha
- 21 jam yang lalu
- 3 menit membaca

Dalam aktivitas bisnis sehari-hari, hampir semua transaksi keuangan melibatkan bank. Mulai dari penerimaan pembayaran pelanggan hingga pembayaran kepada pemasok, semuanya tercatat baik di pembukuan perusahaan maupun di laporan bank. Namun, tidak jarang kedua catatan tersebut menunjukkan angka yang berbeda. Untuk itulah rekonsiliasi bank diperlukan. Artikel ini akan membahas pengertian rekonsiliasi bank, alasan pentingnya, hingga tahapan penyusunannya dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.
Apa Itu Rekonsiliasi Bank?
Rekonsiliasi bank adalah proses mencocokkan saldo kas yang tercatat dalam pembukuan perusahaan dengan saldo yang tercantum pada laporan bank (rekening koran). Tujuan utama dari proses ini adalah memastikan bahwa seluruh transaksi yang terjadi sudah dicatat dengan benar oleh kedua belah pihak.
Melalui rekonsiliasi bank, perusahaan dapat melihat seluruh transaksi yang memengaruhi rekening bank dalam satu periode tertentu. Jika ditemukan perbedaan antara catatan perusahaan dan catatan bank, maka akuntan akan melakukan penyesuaian berdasarkan bukti transaksi yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan.
Mengapa Rekonsiliasi Bank Penting bagi Perusahaan?
Setiap perusahaan umumnya memiliki rekening bank untuk menyimpan dana operasional. Kas yang disimpan secara fisik di perusahaan biasanya hanya dalam jumlah kecil sebagai kas kecil. Oleh karena itu, pengelolaan kas lebih banyak bergantung pada rekening bank.
Meski bank menyediakan laporan transaksi secara rutin, perusahaan tetap perlu memiliki catatan sendiri atas setiap pemasukan dan pengeluaran. Perbedaan sering muncul karena adanya biaya administrasi bank, bunga, denda, atau transaksi tertentu yang belum dicatat oleh perusahaan.
Rekonsiliasi bank membantu perusahaan mengetahui besarnya selisih saldo kas, memahami penyebab perbedaan tersebut, serta memastikan bahwa saldo kas yang dilaporkan benar-benar mencerminkan kondisi sebenarnya.
Waktu yang Tepat untuk Melakukan Rekonsiliasi Bank
Idealnya, rekonsiliasi bank dilakukan minimal satu kali setiap akhir bulan, tepat setelah perusahaan menerima rekening koran dari bank. Laporan ini berisi saldo awal, daftar transaksi selama periode berjalan, dan saldo akhir rekening.
Namun, untuk pengendalian yang lebih baik, rekonsiliasi bank dapat dilakukan lebih sering, misalnya setiap minggu atau bahkan setiap hari dengan memanfaatkan layanan perbankan digital. Dengan rekonsiliasi rutin, potensi kesalahan atau transaksi tidak wajar dapat segera terdeteksi dan ditangani.
Komponen yang Umum Ditemukan dalam Rekonsiliasi Bank
Dalam proses rekonsiliasi bank, terdapat beberapa komponen yang sering menjadi penyebab perbedaan saldo. Salah satunya adalah setoran dalam proses, yaitu dana yang sudah dicatat perusahaan tetapi belum tercermin di laporan bank karena masih dalam perjalanan atau belum diproses.
Komponen lainnya adalah cek beredar, yaitu cek yang sudah dicatat sebagai pengeluaran oleh perusahaan tetapi belum dicairkan oleh penerima, sehingga belum muncul di catatan bank. Selain itu, ada juga cek kosong, yaitu cek yang ditolak bank karena saldo tidak mencukupi dan biasanya disertai biaya tambahan.
Bentuk-Bentuk Laporan Rekonsiliasi Bank
Laporan rekonsiliasi bank dapat disusun dalam beberapa bentuk, tergantung kebutuhan perusahaan. Bentuk staffel disusun secara vertikal dengan penyesuaian saldo kas perusahaan dan saldo bank hingga ditemukan saldo yang benar.
Bentuk skontro menyajikan rekonsiliasi secara berdampingan, di mana sisi kiri menunjukkan penyesuaian saldo kas perusahaan dan sisi kanan menunjukkan penyesuaian saldo bank. Selain itu, terdapat bentuk empat kolom yang merinci saldo awal, penerimaan, pengeluaran, dan saldo akhir, serta bentuk delapan kolom yang menyajikan mutasi transaksi secara lebih detail.
Tahapan Menyusun Rekonsiliasi Bank
Proses rekonsiliasi bank diawali dengan membandingkan saldo kas menurut buku besar perusahaan dengan saldo menurut rekening koran bank. Pada tahap ini, perbedaan hampir pasti ditemukan karena adanya transaksi yang belum dicatat oleh salah satu pihak.
Selanjutnya, perusahaan mencatat transaksi yang dilakukan langsung oleh bank, seperti biaya administrasi dan pendapatan bunga, ke dalam pembukuan. Setelah itu, dilakukan penelusuran atas transaksi yang masih dalam proses, seperti setoran dalam perjalanan dan cek beredar.
Tahap berikutnya adalah menyusun lembar kerja rekonsiliasi bank untuk menghitung selisih saldo secara menyeluruh. Jika setelah perhitungan saldo sudah sesuai, maka proses rekonsiliasi selesai. Namun, jika masih terdapat selisih, perlu dilakukan pengecekan ulang untuk menemukan kesalahan pencatatan, transaksi ganda, atau transaksi yang belum dibukukan.
Contoh Sederhana Rekonsiliasi Bank
Sebagai ilustrasi, PT Sinar Usaha mencatat saldo kas bank sebesar Rp85.000.000 pada akhir April. Sementara itu, saldo menurut rekening koran bank menunjukkan Rp82.500.000. Setelah ditelusuri, terdapat setoran dalam proses sebesar Rp4.000.000 dan cek beredar sebesar Rp1.500.000. Selain itu, bank membebankan biaya administrasi Rp200.000 yang belum dicatat perusahaan.
Setelah dilakukan penyesuaian atas komponen tersebut, saldo kas menurut perusahaan dan bank dapat disesuaikan hingga menunjukkan angka yang sama. Proses inilah yang menunjukkan bahwa rekonsiliasi bank telah dilakukan dengan benar.
Kesimpulan
Rekonsiliasi bank merupakan langkah penting untuk memastikan keakuratan saldo kas perusahaan. Dengan mencocokkan catatan internal dan laporan bank secara rutin, perusahaan dapat mengurangi risiko kesalahan, mendeteksi masalah sejak dini, serta menjaga pengendalian keuangan tetap optimal.
Pelaksanaan rekonsiliasi bank yang konsisten akan membantu perusahaan memiliki laporan keuangan yang lebih andal dan mendukung pengambilan keputusan bisnis yang lebih tepat.
Komentar