Rasio Perputaran Piutang Usaha: Seberapa Cepat Penjualan Jadi Uang Tunai?
- Anindhita Nugraha
- 9 jam yang lalu
- 3 menit membaca

Dalam kegiatan bisnis sehari-hari, penjualan secara kredit hampir tidak bisa dihindari. Di satu sisi, strategi ini membantu meningkatkan penjualan dan menjaga hubungan dengan pelanggan. Namun di sisi lain, kredit juga menimbulkan piutang usaha yang dapat memengaruhi arus kas dan kesehatan keuangan perusahaan. Karena itu, perusahaan perlu memahami seberapa cepat piutang tersebut dapat ditagih. Salah satu alat yang paling sering digunakan untuk menilainya adalah rasio perputaran piutang usaha.
Artikel ini akan membahas rasio perputaran piutang dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, mulai dari pengertian, rumus, contoh perhitungan, hingga dampaknya terhadap arus kas dan kinerja keuangan bisnis.
Apa Itu Rasio Perputaran Piutang Usaha?
Rasio perputaran piutang usaha adalah rasio keuangan yang digunakan untuk melihat seberapa sering perusahaan berhasil menagih piutang dari pelanggan dalam satu periode tertentu. Dengan kata lain, rasio ini menunjukkan seberapa cepat penjualan kredit dapat diubah menjadi kas.
Rasio perputaran piutang termasuk ke dalam rasio aktivitas, yaitu kelompok rasio yang menilai efisiensi perusahaan dalam memanfaatkan asetnya. Fokus utama rasio ini adalah kemampuan manajemen dalam mengelola piutang pelanggan agar tidak terlalu lama tertahan dan mengganggu likuiditas perusahaan.
Rumus dan Komponen Perhitungan
Untuk menghitung rasio perputaran piutang, rumus yang digunakan adalah:
Rasio Perputaran Piutang = Penjualan Kredit Bersih Ć· Rata-rata Piutang Usaha
Rumus tersebut terdiri dari dua komponen utama. Pertama adalah penjualan kredit bersih, yaitu total penjualan secara kredit setelah dikurangi retur dan potongan penjualan. Penjualan tunai tidak dimasukkan karena tidak menimbulkan piutang.
Komponen kedua adalah rata-rata piutang usaha. Nilai ini biasanya diperoleh dari rata-rata piutang awal dan piutang akhir dalam satu periode. Perhitungan rata-rata digunakan agar fluktuasi saldo piutang selama periode berjalan dapat tergambar lebih adil.
Contoh Perhitungan Rasio Perputaran Piutang
Agar lebih mudah dipahami, perhatikan ilustrasi berikut.
PT Maju Lancar memiliki data keuangan sebagai berikut dalam satu tahun:
Penjualan kredit bersih: Rp 800.000.000
Piutang awal tahun: Rp 120.000.000
Piutang akhir tahun: Rp 280.000.000
Rata-rata piutang usaha dihitung sebagai berikut:
(120.000.000 + 280.000.000) Ć· 2 = Rp 200.000.000
Selanjutnya, rasio perputaran piutang adalah:
800.000.000 Ć· 200.000.000 = 4 kali
Hasil ini menunjukkan bahwa dalam satu tahun, perusahaan rata-rata berhasil menagih piutangnya sebanyak empat kali.
Untuk melihatnya dari sisi waktu, rasio ini bisa dikonversi menjadi periode penagihan rata-rata atau average collection period (ACP)Ā dengan rumus:
ACP = 365 Ć· Rasio Perputaran Piutang
ACP = 365 Ć· 4 = sekitar 91 hari
Artinya, rata-rata piutang pelanggan baru dapat tertagih dalam waktu sekitar 91 hari.
Cara Membaca dan Menganalisis Rasio
Nilai rasio perputaran piutang yang tinggi umumnya menandakan bahwa proses penagihan berjalan dengan baik. Hal ini bisa disebabkan oleh kebijakan kredit yang tegas, sistem penagihan yang rapi, atau pelanggan yang memiliki kemampuan bayar yang baik.
Sebaliknya, rasio yang rendah dapat menjadi sinyal adanya masalah. Misalnya, syarat kredit yang terlalu longgar, proses penagihan yang kurang optimal, atau pelanggan yang sering menunda pembayaran. Jika kondisi ini dibiarkan, perusahaan berisiko mengalami gangguan arus kas.
Agar analisis lebih akurat, rasio perputaran piutang sebaiknya tidak dilihat secara terpisah. Perusahaan dapat membandingkannya dengan rata-rata industri untuk mengetahui apakah kinerjanya tergolong baik atau justru tertinggal. Selain itu, perbandingan dari tahun ke tahun juga penting untuk melihat tren perbaikan atau penurunan.
Tips Meningkatkan Perputaran Piutang
Jika perputaran piutang dirasa masih lambat, ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan. Perusahaan dapat mulai dengan menetapkan kebijakan kredit yang jelas, termasuk syarat pembayaran, batas kredit, dan evaluasi kelayakan pelanggan.
Proses penagihan juga perlu dipercepat, misalnya dengan mengirim faktur segera setelah barang atau jasa diberikan dan memastikan informasi dalam faktur mudah dipahami. Selain itu, analisis umur piutang secara rutin dapat membantu perusahaan mendeteksi piutang bermasalah sejak dini.
Langkah lainnya adalah menilai kembali kualitas pelanggan kredit, memberikan insentif pembayaran lebih cepat jika memungkinkan, serta memperkuat koordinasi antara tim penjualan dan keuangan. Penggunaan sistem akuntansi atau ERP juga sangat membantu untuk mengotomatisasi pencatatan dan penagihan piutang.
Dampak Rasio Perputaran Piutang terhadap Arus Kas
Rasio perputaran piutang memiliki pengaruh langsung terhadap likuiditas dan kebutuhan modal kerja. Semakin lama piutang tertagih, semakin besar dana perusahaan yang tertahan dan tidak bisa digunakan untuk operasional atau investasi lainnya.
Selain rasio perputaran piutang, perusahaan juga sering menggunakan periode penagihan dalam satuan hari. Keduanya saling melengkapi, karena rasio menunjukkan frekuensi penagihan, sedangkan periode penagihan menggambarkan lamanya waktu. Dalam praktik, ukuran hari sering kali lebih mudah dipahami, misalnya 60 hari dibandingkan rasio 6 kali per tahun.
Kesimpulan
Rasio perputaran piutang merupakan indikator penting untuk menilai efektivitas pengelolaan piutang dan kelancaran arus kas perusahaan. Dengan memahami cara menghitung dan menganalisis rasio ini, manajemen dapat mengambil keputusan yang lebih tepat terkait kebijakan kredit, penagihan, dan perencanaan keuangan. Pengelolaan piutang yang baik pada akhirnya akan membantu bisnis menjaga likuiditas dan tumbuh secara berkelanjutan.

Komentar